sqIus80d5VwRjHCsULqdp1Lmmq7jVxCChULbkU68

Gunung Gede Pangrango, Pendakian Pertama di Masa New Normal

Hampir 6 bulan sudah kita semua menghadapi musibah wabah yaitu virus corona atau covid-19. Dimana selama itu kita wajib merubah gaya hidup menjadi lebih sehat untuk menjaga imunitas tetap baik. Kita juga harus menahan diri untuk tidak terlalu banyak melakukan aktifitas diluar rumah, menghindari interaksi atau kontak dengan banyak orang guna memutus rantai penyebaran si virus menyebalkan itu.

Banyak kegiatan-kegiatan di berbagai sektor menjadi terganggu. Pendidikan, perkantoran, pusat keagamaan, industri dan semua yang memungkinkan manusia berkerumun dilarang oleh pemerintah. Termasuk juga di sektor pariwisata, semua tempat wisata tutup selama pandemi. Orang-orang ketakutan dan memilih untuk berdiam diri di rumah sambil menunggu dan berharap kondisi segera membaik sehingga bisa beraktifitas lagi.

Belum juga membaik setelah berbulan-bulan, pemerintah harus lebih memutar otak untuk mengantisipasi kondisi yang memburuk di negeri ini. Kini bukan hanya soal kesehatan saja, ternyata dampak yang ditimbulkan pun semakin besar. Pemeritah juga harus mengatasi masalah ekonomi dan kesejahteraan yang ikut memburuk menyusul kondisi pandemi yang tidak kunjung usai. Banyak yg kehilangan penghasilan akibat diberhentikannya kegiatan-kegiatan ekonomi.

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru, yang mana memungkinkan orang-orang untuk melakukan aktifitas lagi namun tetap dengan mematuhi protokol kesehatan. Seperti mendapat angin segar, sektor-sektor yang awalnya lumpuh kini mulai hidup lagi. Tempat ibadah, perkantoran, pusat perbelanjaan kecuali pendidikan yang masih menunggu waktu.

Di sektor pariwisatapun sedikit demi sedikit sudah mulai bangkit. Sudah mulai banyak tempat wisata yang dibuka dengan prosedur atau protokol kesehatan. Menjadi sedikit ribet memang, namun inilah yang katanya disebut normal baru. Lama-lama juga menjadi biasa dan normal.

Untuk tempat wisata sendiri sebenarnya belum terlalu banyak yang dibuka diawal masa new normal, terutama wisata hiking atau pendakian. Mungkin alasannya karena pihak pengelola harus mempersiapkan diri dengan prosedur-prosedur baru sebagai syarat dibukanya suatu tempat wisata. Apalagi katanya wisata alam akan menjadi salah satu yang diburu untuk refreshing, mencari kesegaran setelah terkurung beberapa bulan di dalam rumah.

Mendaki Gunung Gede Pangrango di Masa New Normal

Pendakian Gunung Gede mulai dibuka tanggal 25 Agustus 2020. Mendengar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sudah dibuka, saya girang bukan kepalang. Ya, sudah sangat kangen mendaki. Sudah sangat kangen juga keluar rumah, setelah berbulan-bulan tinggal. Bahkan sejak awal tahun sebelum pandemi saya belum kemana-mana, sedih banget deh.

Baca Juga: Pendakian Gunung Papandayan Garut di Masa New Normal

Dari lama sudah saya pantengin info gunung mana saja yang sudah dibuka untuk aktifitas pendakian. Akhirnya nemu juga Gunung Gede ini. Sebenarnya sebelum ini sudah ada beberapa gunung yang dibuka resmi seperti lawu, prau, dan lain-lain. Kebanyakan berada di Jawa Tengah, jadi tahan dulu deh. Alasan utamanya bukan hanya jauh tapi juga terhambat akomodasi. Kalau Gunung Gede mah kan dekat dari rumah, jadi gak susah-susah amat lah mikirin akomodasinya. Saya sih masih parno naik kendaraan umum, jadi sebisa mungkin pake kendaraan pribadi untuk sementara ini.

Kemudian selain soal transportasi dan akomodasi, tidak banyak persyaratan juga untuk mendaki gunung gede. Paling ya itu, harus mengikuti protokol kesehatan saja. Untuk persyaratan standar seperti simaksi online dan surat keterangan sehat memang sudah diterapkan di gunung gede dari dulu.

Setelah berunding singkat dengan kawan-kawan, kami fix akan mendaki gunung gede hari minggu, 6 sept 2020. 2 minggu setelah Gunung Gede dibuka. Harapannya tidak terlalu membludak seperti awal-awal pembukaan, dan kita juga memilih untuk naik di hari minggu (hingga senin), bukan pas weekend banget.

Info Pendakian Gunung Gede Pangrango

Hari yang ditentukan pun tiba, terkumpulah 9 orang teman mendaki saya kali ini. Kami berangkat menuju basecamp yang berada di Cianjur sabtu malam dan menginap semalam. Senenarnya dari kota tempat tinggal saya di Sukabumi ke basecamp Gunung Gede di cianjur itu relatif dekat, paling tidak hanya 1-2 jam bekendara. Tapi kami memilih menginap dengan tujuan agar bisa mempersiapkan pendakian lebih awal alias pagi-pagi. Karena kami mendaki di hari minggu, pasti di hari sama banyak yang turun gunung dan kemungkinan akan berpapasan dengan kita di jalur. Bakalan antri pikir kami.

Baca Juga: Info Pendakian Gunung Andong Magelang Terlengkap

Memulai Pendakian ke Gunung Gede Pangrango via Gunung Putri

Pagi itu sekitar pukul 5 pagi di Basecamp Gunung Putri, Sukatani, Cianjur, tidak banyak pendaki yang kami lihat. Paling hanya 1-2 rombongan saja. Kami sudah siap-siap membereskan atau packing ulang semua perlengkapan baik yang pribadi maupun kelompok. Rencana kami akan naik pagi-pagi sekitar pukul 6. Simaksi sudah di booking dan di urus, sehingga kita bisa berangkat lebih cepat.

Perjalanan dari Basecamp ke Pos 1

Kami mulai jalan dari basecamp yang mana merupakan rumah salah satu warga pukul 5:30, dan sampai di pos pemeriksaan simaksi sekitar pukul 6:00. Setelah menulis ulang data diri yang diwakilkan oleh satu orang, kami lanjut jalan melewati perkebunan milik warga sekitar. Track awal dari basecamp ini masih terbilang landai, ya agak nanjak sedikit lah. Lewat beberapa meter dari pos pemeriksaan kita menemukan bangunan seperti kantor yang sering disebut pos resort.

Berhenti sejenak karena sudah mulai engap, sambil menyaksikan cantiknya sunrise yang sudah mulai naik terlihat jelas dari pos resort ini.

Pendakian Gunung Gede di Masa New Normal
Sunrise di POS resort

Sebenarnya untuk saya pribadi ini bukan pendakian perdana ke Gunung Gede. Sekitar tahun 2016 pernah sekali kesana dengan menggunakan jalur yang sama yaitu Gunung Putri. Tapi sudah lama jadi sudah lupa rasanya, termasuk juga sudah lupa jalur pendakiannya. Kemarin, sambil berjalan memory di otak saya seperti ter-flashback, mengingat kembali bagaimana pendakian waktu itu, 4 tahun lalu.

Beranjak dari post resort, kami lanjut berjalan menuju pos 1 yang masih cukup jauh. Jalan masih di dominasi track yang landai, di kanan kiri masih terlihat perkebunan warga membentang, ada kebun kol, ubi, bawang, cabe dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung jarak dari basecamp ke pos 1 sekitar 1,5KM dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Sebelum sampai di pos 1 kita akan melewati 1 pos yang disebut pos bayangan, berupa tanah lapang yang bisa digunakan untuk istirahat, sambil jajan (ada warungnya).

Baca Juga: Gunung Kencana Bogor, Alternatif Mendaki Gunung Untuk Pemula

Jam 7 pagi akhirnya kami sampai di pos 1 (ketinggian 1880 mdpl). Pos 1 ini berupa tanah lapang yang lumayan luas. Disana ada 1 bangunan shelter yang bisa digunakan untuk berteduh dari panas maupun hujan. POS 1 juga ditandai dengan gerbang atau gapura yang bertuliskan Gunung Gede Pangrango yang sudah reyod dan lusuh. Seingetku saat pertama kali kesana gerbangnya masih sama seperti itu, berlumut dan tulisannya hampir tidak terbaca. Gak ada niatan diganti apa ya? Atau mungkin sengaja supaya menjadi ciri khas, hehe. Faktanya selalu banyak saja yang berfoto di gerbang iconic itu, termasuk kita.

Pendakian Gunung Gede di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru
Gerbang Iconic POS 1

POS 1 ke POS 2 (Legok Leunca)

Kami istirahat agak lama di POS 1, keringat sudah mulai bercucuran dan baru inget kami belum sarapan apa-apa sebelum memulai pendakian. Akhirnya buka bekal dulu disana, sambil jajan juga di warung yang ada di pos 1. Hampir disetiap pos dijalur pendakian Gunung Gede via Gunung Putri ada warungnya, menyediakan jajanan dan logistik standar lain termasuk air, rokok, obat, dll. Tapi sebagian hanya buka saat weekend. Karena hari itu masih hari minggu, jadi masih ada warung. Lumayan kan masih banyak pendaki yang turun. Sedangkan pas kami turun (hari senin) warung-warung sebagian sudah tidak ada.

Jadi kalau mendaki pas weekend dan ada kekurangan logistik ya masih oke lah. Tapi harganya bisa 2-3 kali lipat. Yaaa kan mereka juga harus susah payah ngangkat itu dagangan ke atas. Jadi masih worth it lah ya.

Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke POS 2 sekitar pukul 7:20. Sudah mulai bertemu dengan beberapa pendaki yang hendak naik di POS 1 ini. Untuk yang turun sih belum ada ya, karena masih pagi. POS 1 ke POS 2 lumayan dekat, hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja, dengan jarak tempuh sekitar 500 meter.

Pukul 7:50 kami sampai di POS 2 (ketinggian 1993mdpl). Sama seperti POS 1, di POS 2 terdapat bangunan atau shelter untuk istirahat. Hanya saja POS 2 ini tidak seluas POS 1. Karena belum terlalu kelelahan, kami gak berlama-lama di POS 2 ini. Hanya numpang nafas 5-10 menit saja paling.

POS 2 ke POS 3 (Buntut Lutung)

Kami lanjutkan perjalanan dari POS 2, jam masih menunjukan pukul 8:00 pagi itu. Track dari POS 2 ke POS 3 ini sudah semakin miring dan terjal. Dibeberapa bagian masih berupa tanah yang masih enak dipijak. Namun disini kita sudah mulai menemukan track akar-akar yg harus di panjat. Tenaga mulai dikeluarkan lebih ekstra. Belum lagi jarak dari POS 2 ke POS 3 ini lumayan panjang, sekitar 900 meter dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.

Pukul 09:23 akhirnya kami sampai juga di POS 3 atau POS Buntut Lutung (ketinggian 2260 mdpl). Di POS ini sudah mulai lebih banyak orang. Sepertinya kita sudah mulai bertemu dengan para pendaki yang hendak turun. Buru-buru cari lahan kosong yang agak jauh dari orang-orang, supaya tetap bisa pysical distancing. HEHE. Untungnya POS 3 lumayan luas, jadi bisa leluasa cari tempat ngaso yang enak.

Info Pendakian Gunung Gede via Jalur Gunung Putri
Rehat di POS 3

Kami istirahat agak lama disini, sekitar 30 menit. Habis digempur tanjakan menuju POS 3 yang katanya belum seberapa dibanding track di depan kita untuk menuju POS 4. Yaudah ya rebahan dulu aja sambil ngemil, balikin dulu tenaga untuk menyongsong tanjakan-tanjakan berikutnya.

POS 3 - POS 4 (Simpang Maleber)

Setelah istirahat sekitar 30 menit di POS 3, kami lanjutkan lagi pendakian sekitar pukul 10:00. Dan benar saja, semenjak mulai berjalan dari POS 3 kita sudah disambut track yang semakin kejam. Sudah tidak ada lagi bonus-bonus. Jalur semakin sempit dan terjal, berupa akar-akar pohon. Harus extra hati-hati disini, karena kalo kepleset yasudah. Kalau ngga tergelincir, kaki keceplos akar nikmat sudah rasanya. 2x saya menyaksikan orang yg terpeleset lalu kaki mereka terperosok ke sela-sela akar tersebut, si korban langsung lemes. Butuh waktu untuk mereka memulihkan kekuatan kaki, linu soalnya.

Menurut orang-orang, jalur Gunung Putri ini jalur yang paling mudah. Tapi kalau kata temen saya, mudahnya dimana? Apalagi saat melewati track ke POS 4 ini, gak ada mudah-mudahnya ini mah. Haha. Mungkin maksudnya jika dibandingan 2 jalur lain (Cibodas & Salabintana).

Info Pendakian Gunung Gede via Jalur Cibodas
Track menuju POS 4

Tanjakan demi tanjakan kami lahap dengan perlahan. Sejam perjalanan kok belum terlihat juga POS 4 nya! Ternyata kami harus menghabiskan waktu 2 jam untuk sampai ke POS 4. Jaraknya hanya sekitar 850 meter dari POS 3, tapi gara-gara tracknya itu loh, benar-benar menguras tenaga. Sebelum sampai di POS 4 kita akan melewati 1 pos yaitu Lawang Saketeng (POS bayangan). Sedang lelah-lelahnya ngelihat plang POS di kejauhan itu bahagianya bukan main, eh ternyata cuma bayangan.

Pukul 12:10 siang kami akhirnya sampai di POS 4 atau POS Simpang Maleber(ketinggian 2627 mdpl). POS 4 ini ditandai dengan warung di lahan yang tidak terlalu luas. Di POS 4 ini sudah semakin banyak berpapasan dengan para pendaki lain yang hendak turun. Kami istirahat sejenak sambil jajan gorengan di warung yang ada di POS 4.

Info Pendakian Gunung Gede via Jalur Salabintana
Istirahat di POS 4

POS 4 - POS 5 (Alun-alun Suryakencana)

Setelah istirahat sejenak di POS 4, kami melanjutkan kembali pendakian yang tinggal sedikit lagi. Sudah agak lega nih dari sini, karena kita hanya perlu menempuh 1 pos lagi ke POS terakhir yaitu Alun-alun suryakencana. Sudah tidak sabar rasanya ingin segera tiba disana, salah satu tempat favorite yang ada di Gunung Gede.

Baca Juga: Informasi Pendakian Gunung Galunggung Tasikmalaya

Kami mulai jalan lagi sekitar pukul 12:30. Track menuju POS 5 ini masih sama seperti track ke POS 4, tanjakan curam dan terjal. Jaraknya hanya sekitar 500 meter, dan di 100 meter terakhir berupa track landai. Pokonya kalau sudah ketemu track landai itu, berarti sebentar lagi akan sampai ke Alun-alun Suryakencana.

Info Harga Simaksi Gunung Gede Pangrango
Track Landai 100 meter sebelum Alun-alun Suryakencana

Sebenarnya hanya perlu sekitar 30 menit saja dari POS 4 ke POS 5 ini, tetapi karena kami banyak tertahan di jalur untuk gantian dengan pendaki yang hendak turun jadi banyak diemnya. Setelah 40 menit kami sampai di POS 5 Alun-alun Suryakencana sekitar pukul 13:10. Akhirnya...

Cara Mendaki Gunung Gede di Masa Pandemi
POS 5 Alun-alun Suryakencana

Kalau di total kami menghabiskan 8 jam dari awal pendakian sampai ke POS terakhir (Alun-Alun Suryakencana). Waktu yang sama ketika saya mendaki pertama kali 4 tahun lalu. Kirain akan lebih cepat, kok gak ada kemajuan ya. Haha. Padahal saat pendakian yang dulu, saya mendaki dalam keadaan hujan jadi lebih sulit dan lelet pastinya.

Alun-alun Suryakenca - Puncak Gunung Gede

Alun-Alun Suryakencana atau Surken ini merupakan tempat yang sangat luas, entah berapa hektar luasnya. Lokasi ini adalah lokasi yang paling pas dan sering dijadikan tempat bermalam dan mendirikan tenda. Saking luasnya dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Alun-alun Suryakencana Timur dan Barat. Jika mendaki melalui jalur Gunung Putri kita akan sampai di Alun-alun timur terlebih dahulu. Sedangkan jalur untuk menuju ke puncak berada di Alun-alun Barat.

Info Lengkap Pendakian Gunung Gede Pangrango
Alun-alun Suryakencana yang Luas Membentang

Untuk meminimalisir jarak menuju puncak kami akan mendirikan kemah di Alun-alun Barat. Kita lanjut menyusuri tanah lapang menuju Alun-Alun barat, lumayan memakan waktu 30-60 menit sambil banyak istirahat dan foto-foto. Tiba di Alun-alun Barat kami mencari lahan yang nyaman untuk mendirikan tenda. Kalau dilihat-lihat sudah tidak terlalu banyak orang disini, mungkin sudah pada turun. Tenda pun tidak banyak yang berdiri sehingga kami bisa leluasa mencari lahan yang enak untuk berkemah.

Baca Juga: Gunung Lembu, Gunung Kecil dengan Pemandangan Indah Menghadap Waduk Jatiluhur

Ada sedikit tanah rata disamping jalur pendakian ke puncak yang kiranya cukup untuk menampung 3 tenda milik kami. Alun-alun Barat ini lebih banyak dipilih untuk berkemah daripada alun-alun timur, selain karena lebih dekat ke puncak disini juga lebih dekat ke sumber mata air untuk mengambil kebutuhan air jika kekurangan. Ya, di Gunung Gede tepatnya di Alun-alun Suryakencana ini ada mata air bersih yang bisa digunakan, sehingga tidak perlu membawa bekal air terlalu banyak dari bawah.

Info Lengkap Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango
Lahan Hanya Cukup 3 Tenda

Sekitar pukul 15:30 tenda kami berhasil berdiri. Kami berencana lanjut ke puncak Gunung Gede sore itu juga. Alasannya karena langit sore itu sedang cerah-cerahnya, sepertinya sunset akan cantik dari atas. Terus jarang-jarang ya yang sunset di Puncak Gede, kebanyakan yang dicari sunrisenya, jadi pengen cobain. Setelah istirahat sejenak kami lanjut berjalan lagi ke puncak. Hanya 6 dari 9 orang yang berangkat, sisanya memilih untuk jaga tenda dan ke puncak pagi-pagi.

Perjalanan ke puncak normalnya sekitar 1 jam, jaraknya sekitar 700 meter. Tapi ternyata lebih cepat, sekitar 45 menit saja kami sudah sampai. Mungkin karena tidak membawa beban sehingga lebih enteng jalannya. Ya, ke puncak ini hanya membawa tas kecil yang berisi air minum dan senter saja. Sesampainya di Puncak Gunung Gede wow sangat sepi, udah kayak milik pribadi. Kami tiba sekitar pukul 5 lebih.

Tidak lama disana, paling hanya 30 menit. Karena langit sudah mulai gelap dan matahari sudah pulang ke peraduannya. Setelah puas menikmati puncak dan berswa foto kami lanjut perjalanan turun kembali ke camping ground. Puncak Gede sore-sore, not bad lah.

Informasi Dibukanya Gunung Gede Di Masa Pandemi Covid 19
Puncak 01
Informasi Dibukanya Gunung Gede Di Masa Pandemi Covid 19
Puncak 02
Informasi Dibukanya Gunung Gede Di Masa Pandemi Covid 19
Puncak 03
Informasi Dibukanya Gunung Gede Di Masa Pandemi Covid 19
Puncak 04
Informasi Dibukanya Gunung Gede Di Masa Pandemi Covid 19
Puncak 05

Perjalanan turun kami tempuh sekitar 30 menit saja. Dengan bantuan cahaya senter kami menyusuri gelapnya malam di jalur yang didominasi pepohonan cantigi. Track menuju puncak ini tidak terlalu terjal tapi tidak bisa dibilang mudah juga. Jalurnya sama-sama sempit dan curam, tapi setidaknya pijakannya sangat jelas.

Sesampainya di tenda sudah disambut teman-teman yang sedang memasak. Lanjut beres-beres dan shalat dulu, sebelum akhirnya gabung untuk masak bareng-bareng. Si cacing sudah minta jatah terus, kasian dari pagi cuma dikasih gorengan. HEHE. Kami masak nasi liwet dan teman-temannya lalu makan bersama. Tidak banyak yang dilakukan setelah makan, hanya ngobrol-ngobrol ringan lalu lama-lama senyap tidak terdengar lagi suaranya. Maklum angin malam sudah mulai menusuk dan badan sudah mulai sakit-sakit, waktunya istirahat.

Satu persatu nyaman dibalik kantung tidur masing-masing, menyiapkan tenaga untuk besok summit dan turun. Kalau saya sendiri sudah berniat untuk tidak summit atau sunrise ke puncak, berhubung kaki sudah mulai terasa apalagi ditambah kurang tidur. Eh tapi ternyata salah, saya tidur sangat nyenyak malam itu, tau-tau sudah subuh. Pengalaman yang langka, karena biasanya jarang sekali bisa tidur nyenyak saat camping, apalagi di gunung. Faktor utamanya ya sudah pasti karena gak nyaman. Biasanya berisik dari tenda sebelah atau pendaki-pendaki labil yang suka teriak-teriak, ini ganggu banget. Belum lagi yang nyetel lagu di speaker kenceng-kencengan. Kemarin, gak ada semua itu!! Karena tenda gak tetanggaan sama yang lain, jadi bener-bener berasa lebih tenang. Enak banget pokoknya.

Pagi menjelang, ada yang bersiap untuk naik ke puncak menyaksikan matahari terbit dari puncak Gunung Gede. Tapi kebanyakan pada mager nih, dinginnya itu loh. Mau ambil wudhu aja perjuangan sekali untuk keluar tenda dan pegang air. Setelah shalat subuh, malah pada lanjut rebahan. Hehe.

Ketika sang surya mulai menampakan diri menyebarkan kehangatan, satu persatu mulai keluar dari tenda. Sungguh pagi yang cerah dan indah di Alun-alun Suryakencana waktu itu. Sambil berjemur kami menyiapkan sarapan seadanya, mengisi tenaga untuk perjalanan turun. Kami rencananya akan turun pagi-pagi sekitar pukul 09:00 dengan harapan bisa sampai basecamps setidaknya sebelum ashar. Perjalanan turun biasanya akan lebih cepat daripada naik.

Kebanyakan orang biasanya naik dan turun Gunung Gede menggunakan jalur berbeda atau disebut lintas Jalur. Misalnya naik dari Cibodas turun di Gunung Putri atau Selabintana ataupun sebaliknya. Keuntungannya bisa mencoba 2 jalur sekaligus. Tapi karena kami memarkir kendaraan di Basecamp Gunung Putri akhirnya turun kembali menggunakan jalur Gunung Putri.

Baca Juga: Informasi Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng dan Dieng

Perjalanan Turun Gunung Gede Menuju Basecamp Gunung Putri

Senin, 07 september pukul 09:00, setelah selesai beres-beres dan bongkar tenda kami berdoa bersama untuk melanjutkan perjalanan pulang. Track awal kembali menyusuri Alun-alun Suyakencana menuju alun-alun timur. Nah lepas dari sini baru deh kita digempur turunan-turunan curam seperti yang kemarin dilalui saat naik. Sebenarnya perjalanan turun itu tidak begitu terasa lelah, hanya kekuatan kaki yang benar-benar harus extra kuat. Jangan sampai lemas dan tidak kuat menahan beban di turunan yang gak habis-habis ini.

Pos demi pos kami lalui dengan tidak terlalu banyak istirahat. Di jalur kami tidak bertemu dengan begitu banyak orang selain yang sama-sama turun. Ada sih satu-dua rombongan yang mau naik. Tidak terasa sudah melewati POS 1 dan tiba di pos resort sekitar pukul 14:00. Istirahat agak lama disini, sebelum akhirnya melanjutkan lagi ke basecamp yang tinggal beberapa ratus meter lagi.

Pas dan tepat waktu, kami sampai sekitar waktu shalat ashar. Lanjut beres-beres di basecamp, mandi, shalat dan memesan makanan sebelum melanjutkan perjalanan lagi ke rumah masing-masing. Setelah semua selesai, disitu saya berpisah dengan beberapa kawan yang hendak pulang ke kota masing-masing.

Pendakian Gunung Gede kali ini Alhamdulillah berjalan lancar tanpa kekurangan suatu apapun. Banyak pengalaman baru yang berbeda dengan pengalaman saya mendaki gunung gede yang awal dulu. Salah satunya bisa menikmati Gunung Gede yang lebih esklusif dan tenang. Rencana pendakian ini dari awal membuat saya sangat bersemangat. Mungkin karena sudah kangen mendaki dan sudah kangen juga dengan gunung gede. Belum lama setelah turun, eh Gunung Gede nya di tutup lagi. Sedih tapi cukup bersyukur karena sudah sempat kesana untuk melepas rindu. Terimakasih ya Gede.

Semoga pihak-pihak terkait bisa segera melakukan evaluasi dan juga lebih mempersiapkan diri di masa normal baru ini, sehingga Gunung Gede bisa segera dibuka dan dinikmati kembali. Tentunya dengan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Para calon pendaki juga harus membantu dengan cara patuh dan mengikuti peraturan yang ditetapkan. Ini berlaku di tempat wisata manapun. Yuk saling mendukung, sama seperti sektor lain pariwisata juga harus berjuang keluar dari krisis akibat pandemi ini. Ada hajat hidup banyak orang, diantaranya para petugas dan warga sekitar yang mengantungkan hidup disana.

Kita tentu sama-sama berharap semoga pandemi ini segera mereda dan usai, sehingga kita bisa beraktifitas seperti sedia kala. Akhir kata terimakasih untuk tim ku yang sudah membersamai pendakian dadakan ini, see you guys!

Koleksi Foto (klik untuk perbesar)

Info Pendakian Gunung Gede Pangrango Terbaru 2020
Info Pendakian Gunung Gede Pangrango Terbaru 2020
Info Pendakian Gunung Gede Pangrango Terbaru 2020
Info Pendakian Gunung Gede Pangrango Terbaru 2020
Info Pendakian Gunung Gede Pangrango Terbaru 2020
Info Pendakian Gunung Gede Pangrango Terbaru 2020

Budayakan Komentar Setelah Membaca :)

Kamu Pasti Suka
Zoetami
Travelogger // sharing while doing.

Artikel Terkait

2 komentar

  1. Pengen nyobaon sakalian mah naik gunung 😅😅😅😅

    BalasHapus