Wednesday, January 24, 2018

#1 Negeri Di Atas Awan Dieng, Akses Kesana Berikut Biayanya

Hallo. I'm Back.

Kali ini saya akan sharing pengalaman perjalananan berikutnya, yaitu ke Negeri Diatas Awan Dataran Tinggi Dieng.
Yeay salah satu destinasi incaran saya. Akhirnya bisa mengunjungi Dieng untuk pertama kalinya pada awal tahun 2018, yaitu tepatnya tanggal 5-9 Januari 2018. Alhamdulillah.

Sengaja saya menggeser jadwal pergi, supaya tidak pas dengan high session libur tahun baru. Alasannya (as usual) supaya gak macet dan nunggu tempat wisata kosong dulu. Hehe.

Dieng Plateau atau lebih dikenal dengan sebutan Dataran Tinggi Dieng, merupakan kawasan vulkanik aktif yang berada di Indonesia. Terletak di provinsi Jawa Tengah, lebih tepatnya berada di antara dua kabupaten yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Luas wilayah Dieng tidak terlalu besar, hanya ada beberapa kecamatan saja. Meski termasuk wilayah terpencil di Jawa Tengah, Dieng termasuk salah satu tempat wisata favorit.

All About Dieng

Mengapa orang sering menyebutnya Negeri Di Atas Awan?

Mungkin karena posisinya lebih dekat dengan awan. hihi
Ya, Dieng Plateau berada di dataran tinggi. Yaitu berada di ketinggian sekitar 2000 meter diatas permukaan laut.
Dieng ini unik menurutku, layaknya sebuah kota diatas gunung. Disana banyak pemukiman seperti pada umumnya, hanya saja lokasinya berada di atas / dataran tinggi. Coba gimana?

Kalau naik gunung pada umumnya kan kita mesti trekking dari bawah untuk sampai atas. Ke Dieng kita sudah bisa menggunakan kendaraan dan gak harus tendaan. Cocok buat yang gak hobi hiking tapi ingin merasakan sensasi dan suasana pegunungan.

Seperti dataran tinggi / gunung pada umumnya, suhu di Dieng sangat dingin. Berkisar 12-20 derajat saat siang, dan 6-10 derajat saat malam... Brrrrrr pokoknya.. Bahkan menurut cerita warga, pada musim kemarau (sekitar Juli atau Agustus), suhu bisa mencapai 0 derajat. Walah gak kebayang kan bagaimana dinginnya. Sampai-sampai pada pagi hari bisa muncul es yang oleh warga setempat di sebut “Bun Upas” (Embun Racun) karena bisa merusak tanaman.

Warga setempat sebagian besar berprofesi sebagai petani. Kebanyakan petani kentang. Selain kentang banyak juga tanaman-tanaman lain di budidaya disana. Contohnya seperti cabe, terong, dll. Dataran tinggi selalu terkenal dengan tanahnya yang subur.

All About DiengSemur kentang, Jajanan hits Dieng (Sumber Gambar)

Akses menuju Dieng


Seperti biasa saya pergi bergerombol bersama teman-teman. Saya bukan tipe pejalan solo traveling, bahkan belum pernah pergi sendiri. Hehe. Rasanya belum nyaman aja kalau pergi sendiri. Kata orang, kalau pergi sendiri bisa tambah teman di jalan. Tapi sepertinya saya bukan tipikal orang seperti itu. Agak susah beradaptasi yang berkenalan dengan orang baru, hm mungkin kurang bawel. Sebel juga sih kadang, pemalu gini kadang menyulitkan :( .

Jadi, cara terampuh saya agar tidak kesepian saat jalan adalah mengumpulkan masa (teman-teman) untuk diajak jalan bareng.

Kali ini saya pergi ber-7, menggunakan kereta malam dari Jakarta.
Dari Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya, Dieng bisa dijangkau menggunakan mobil atau kereta. Untuk kita yang pergi dengan tidak menggunakan kendaraan pribadi, kita bisa naik kendaraan umum yaitu bis dan kereta. Hanya, jika menggunakan kereta ke Dieng, kita masih harus sambung menyambung estafet dengan kendaraan lain. Karena Dieng ada di dataran tinggi, jadi gak ada kereta yang sampai kesana ya.

Berikut rute kendaraan umum, dengan menggunakan bis dan kereta.

1. Ke Dieng Dengan Kereta

Pergi dengan kereta untuk sebagian orang adalah pilihan yang tepat. Contohnya, untuk yang sering mabuk perjalanan, biasanya mereka akan lebih nyaman dengan kereta.

Menuju Dieng dengan kereta sebetulnya cukup ribet. Kenapa begitu?
Ya karena itu tadi. Tidak ada kereta sampai Dieng, jadi kita tetap harus estafet menggunakan kendaraan lain. Meski ribet, untuk perjalanan saya dan teman-teman kemarin kami tetap menggunakan kereta. Selain biaya lebih hemat (sedikit) dari naik bis, alasan lain karena banyak rekan yang kurang nyaman naik bis jarak jauh (suka pusing katanya).

Umumnya orang-orang yang menggunakan kereta ke Dieng, akan berhenti di stasiun purwokerto. Sebetulnya, bisa di stasiun lain setelahnya seperti stasiun Kutoarjo sampai Yogya. Tapi untuk akses kendaraan umum lain (yaitu bis), akan lebih enak dari kota Purwokerto, Banyumas.

All About DiengStasiun Purwokerto

Dari Jakarta ataupun Bandung banyak tersedia pilihan kereta dengan berbagai kelas, mulai dari ekonomi, bisnis dan eksekutif. Dengan tarif paling hemat adalah 67K (KA Serayu ekonomi), start dari stasiun Pasarsenen. Untuk rute KA serayu ini melewati Bandung juga lho, rutenya puter arah jadinya cukup jauh dan lama. Untuk yang ingin naik di Bandung, bisa ke stasiun Kiara Condong (tidak berhenti di stasiun utama Bandung).

Dari stasiun Purwokerto, kita harus sambung dengan bus menuju kota Wonosobo. Untuk mendapatkan bus ke Wonosobo tentu saja dari terminal Purwokerto. Jadi, dari stasiun kita harus menuju terminal terlebih dahulu menggunakan angkutan kota (angkot) karena lokasinya lumayan jauh (tarif 4K).

Setelah sampai ke terminal Purwokerto, cari agen bis rute Wonosobo. Kalau bingung, langsung ke loketnya saja yang ada di dalam terminal. Terminal Purwokerto ini cukup besar dan rapi, jadi cukup nyaman menurut saya. Tapi calo mah tetep aja banyak :( , tetap jaga barang bawaan kalian ya.

Bis yang melayani rute Purwokerto – Wonosobo adalah bis antar kota yang ukurannya tidak terlalu besar. Disana mereka menyebutkan bis cebong, cebong Jaya nama PO nya. Gak ada hubungannya dengan sebutan pendukung bapak. hehe.

Bis Cebong (Sumber)

Tarif bis dipatok 35K. Perjalanan dari Purwokerto ternyata masih sangat panjang lho teman-teman. Harus melewati 2 kabupaten dulu, yakni Purbalingga dan Banjarnegara. Lama perjalanan kurang lebih 2-3 jam, itupun sopir sudah ngebut ala Vin Diesel. Tipe jalan yang belok-belok (kadang naik turun), ditambah kecepatan di atas rata-rata kadang cukup bikin jantung mau copot. Ketambah bis yang sudah tidak gagah lagi, alias agak reyot. Tapi tidur aja dah, biar gak kerasa. Hehe.

Sampai di kota Wonosobo, tapi perjalanan masih belum selesai. Kita masih harus sambung 1x lagi menuju Dieng. Kendaraan selanjutnya ini berbentuk bis yang lebih kecil lagi. Kalau di tempat tinggal saya (Sukabumi) disebutnya elf, sedangkan warga sana menyebutnya bis mikro. Sama saja lah ya, intinya bis kecil. Bis mikro tersebut melayani rute Wonosobo – Batur via Dieng (tarif 20k).

Bis Mikro (Sumber)

Akses menuju Dieng dengan kereta cukup panjang kan? Dan pastinya cukup melelahkan. Tapi jika kita menikmati perjalanan, not a big deal.

2. Ke Dieng dengan Bis

Alternatif lain selain menggunakan kereta, tentu saja dengan bis.
Pilihan ini cocok untuk kalian yang tidak ingin ribet, dan senang yang instan-instan. Rute bis menuju Dieng paling dekat yaitu ke Wonosobo. Jadi kita tinggal sambung 1x Wonosobo – Dieng dengan bis mikro. Hanya cukup ganti kendaraan satu kali saja jika menggunakan cara ini.

Dari Jakarta maupun Bandung, banyak tersedia bis yang melayani rute ke Wonosobo dengan berbagai kelas dan tarif yang bervariasi. Dari Jakarta diantaranya PO Sinar Jaya, Pahala Kencana, dan Damri. Untuk tarifnya (kalau tidak salah) mulai 80K sampai 300K tergantung kelas apa yang di pilih. Kalau terminal untuk start nya mungkin bisa search mpok google, kurang tau saya karena belum coba.
Sedangkan kalau dari Bandung bisa menggunakan PO Sinar Jaya atau Budiman dari terminal Cicaheum. Tarifnya hampir sama dengan dari Jakarta (tergantung kelas apa yang dipilih).

Sesampainya di kota Wonosobo seperti cara di poin 1, melanjutkan perjalanan menggunakan bis mikro menuju Dieng. Untuk tarif bis mikro ini sebetulnya masih simpang siur. Kemarin saat perjalanan pergi kami di tagih ongkos 25K oleh kernet, sedangkan menurut orang asli Dieng tarif adalah 20K. Saat perjalanan pulang, kami bayar 20K dan diterima kok.

Begitupun dengan bis cebong jurusan Purwokerto – Wonosobo. Saat perjalanan pulang kami ditagih 40K oleh kernet (sedangkan saat berangkat dari loket resmi bayar 35K). Tentu saja kami menolak, iseng-iseng dikasih 30K eh diterima juga (malah lebih murah dari pas berangkat). Loh? Pusing. Gak tau deh yang mana yang bener.

Tips:
Berhubung banyak supir / kernet nakal, pastikan kalian sudah tau dulu tarifnya berapa. Dan selalu siapkan uang pas. Apalagi melihat kita bawa-bawa backpack seperti pendatang, supir tidak bertanggung jawab akan seenaknya kasih harga. Sampai-sampai angkot saja (di Purwokerto) menolak dikasih seharga tarif asli (minta lebihin), mungkin karena kita kelihatan pendatang. Padahal sebelumnya sudah cek dan tanya ke warga setempat untuk tarifnya, hm.. tapi yaudah deh ngalah saja. Takut di apa-apain di kota orang :(


Sementara itu dulu sharing perjalanan dari saya. Akses berikut ongkos untuk mengunjungi Negeri Diatas Awan, Dieng. Saya masih akan sharing banyak mengenai objek-objek wisata, itinerary, info penginapan, rental dan lain-lain. Di part berikutnya...

Pantengin terus.

Budayakan Comment Setelah Membaca :)

Baca Juga

2 komentar

Kira kira ada awan kinton gak disana ?

Ada dong. Tapi bayar klo mau naik