Wednesday, November 29, 2017

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan Ciptagelar (Seren Taun)

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan Ciptagelar

September lalu, tepatnya 15-17 september 2017, saya berkesempatan mengunjungi salah satu Kampung Adat yang ada di Sukabumi. Datang bersama rekan-rekan dari Komunitas Backpacker Sukabumi untuk menghadiri acara adat seren taun di Kasepuhan Ciptagelar.

Kasepuhan Ciptagelar berada di perbatasan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dan Kabupaten Banten. Berjarak cukup jauh, kurang lebih 100 KM dari kota Sukabumi. Kampung Adat ini berada di kaki gunung halimun dan masih termasuk dalam kawasan Ciletuh–Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGG).

Saya dan rombongan (sekitar 20 orang) berangkat menuju Kasepuhan Ciptagelar hari jumat 15 September 2017. Start dari Basecamp Sukabumi Facebook Ciraden, Cisaat pukul 7 malam.

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan CiptagelarPoto bersama sebelum berangkat (personil belum lengkap)

Sesuai itinerary kami akan singgah untuk menginap di Kasepuhan Sinarresmi di malam sabtu, sebelum hari sabtu melanjutkan perjalanan ke Kasepuhan Ciptagelar untuk puncak acara seren taun di hari minggu tanggal 17 september.

Kasepuhan Sinaresmi juga salah satu Kampung Adat yang berada di kabupaten Sukabumi dan masih termasuk dalam zona inti Ciletuh-Palabuhanratu Unesco Global Geopark. Lokasi Kasepuhan Sinarresmi lebih mudah di jangkau, dan lebih dekat ke kota Palabuhan Ratu.

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan Ciptagelar
jarak dari Palabuhan Ratu ke Kasepuhan Sinarresmi

Perjalanan dimulai dengan touring menggunakan sepeda motor menuju Palabuhan Ratu. Butuh 2 jam perjalanan untuk sampai ke kota Palabuhan Ratu dari kota Sukabumi dengan kecepatan rata-rata, dan kami pun sampai di Palabuhan Ratu sekitar pukul 9 malam. Untuk sampai di Kasepuhan Sinaresmi, dari Kota Palabuhan Ratu masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 – 1 ½ jam menuju cikakak.

Setelah istirahat sebentar di Palabuhan Ratu, kami melanjutkan perjalan sekitar setengah 10 malam. Dan sampai di Kasepuhan Sinaresmi sekitar pukul 11 lebih. Kami disambut baik oleh keluarga pemimpin Kampung Adat Sinarresmi dan dipersilahkan menginap untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalan ke Kasepuhan Ciptagelar.

Keesokannya, setelah selesai mandi dan sarapan, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Kasepuhan Cipatagelar. Sekitar pukul 10 siang kami berangkat dari Kasepuhan Sinarresmi. Karena medan yang akan dilewati cukup ekstrim dan berbahaya (untuk yang tidak terbiasa), akhirnya kami menyewa kendaraan pick up untuk mengantarkan kami ke Kasepuhan Ciptagelar. Kendaraan pick up (L300) tersebut disewa dengan uang sharecost yang di kordinir oleh panitia penyelenggara trip, yakni Admin dari I Love Sukabumi.

Menurut informasi, biaya untuk menyewa kendaraan ke Kasepuhan Ciptagelar dipatok 500-750k untuk kendaraan jenis L300/truk. Bisa muat 10-20 orang. Cukup murah kan? Apalagi memang betul, medan yang dilewati ternyata sangat sulit. Jalan perbukitan menuju dataran tinggi, sehingga jalanan menukik dan berbelok-belok. Belum lagi kondisi jalan yang masih bebatuan (sebagian sudah berupa aspal, yang sudah mulai rusak). Jalan yang sempit dengan tanjakan yang tidak ada habisnya, belum lagi dikanan & kiri jalan adalah jurang, bisa dibayangkan kan gimana mendebarkannya perjalanan kami?

Tapi tenang, kecemasan menghadapi jalan sedikit teralihkan dengan pemandangan yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Lembah-lembah hijau, pesawahan, dan sungai yang terlihat dari atas perbukitan akan membuat sedikit syahdu.

Perjalanan indah sekaligus mendebarkan tersebut harus ditempuh kurang lebih 1-2 jam perjalanan. Hingga akhirnya kami sampai di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar sekitar pukul 12 siang.

Sesampainya disana, suasana layaknya hajatan bernuansa sunda sudah terasa. Kami disambut dengan tabuhan alat-alat musik tradisional yang di mainkan oleh warga lokal. Selain rombongan kami, tamu-tamu lain pun sudah banyak yang berdatangan.

Kami langsung menuju homestay (rumah warga) yang sudah di booking jauh-jauh hari untuk disewa sebagai tempat istirahat dan menginap. Rumah-rumah warga di sekitar kasepuhan cukup banyak, dan bisa disewa untuk para pengunjung yang datang dan menginap. Harga yang ditawarkan bervariasi, pintar-pintar saja menawar. Warga-warga disana ramah-ramah dan enak untuk di ajak berbaur.

Acara seren taun sendiri adalah acara rutin yang diadakan setiap tahun oleh warga kasepuhan. Sebagai bentuk bersyukur kepada Sang Maha Kuasa atas hasil panen yang sudah didapatkan. Acara seren taun 2017 ini adalah seren taun ke-649. Acara tersebut terbuka untuk umum. Setiap tahun acara ini selalu penuh sesak dengan pengunjung yang ingin menyaksikan langsung acara sakral kental dengan nuansa adat, yang sudah banyak ditinggalkan oleh mayoritas masyarakat sunda di tempat lain.

Saya pun baru pertama kali datang untuk menyaksikan langsung acara ini. Meskipun di tahun-tahun sebelumnya selalu tau infonya, hanya saja belum punya moment pas untuk bisa hadir. Dan Tahun ini, akhirnyaaa.

Semua tamu yang datang kesana akan dijamu ke salah satu rumah yang dijadikan pusat kegiatan, disebut juga ‘Imah Gede’. Imah Gede dalam bahasa indonesia yaitu Rumah Besar.

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan CiptagelarImah Gede

Banyak makanan tradisional lho disuguhkan di Imah Gede, salah satu yang menjadi buruan para tamu adalah dodolnya yang khas dan enak banget. Di Imah Gede juga disediakan nasi dan lauk-lauk untuk tamu bersantap. Semua tamu bisa makan ‘all you can eat’ semua hidangan secara GRATIS. Semua yang disediakan sebagai bentuk jamuan dari masyarakat Kasepuhan untuk tamu. Jadi, jika berkunjung kesana dijamin gak akan kelaperan, meskipun berada di pegunungan dan tidak ada fasilitas-fasilitas seperti resto, warung makan, dll.

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan Ciptagelarmenikmati hidangan di Imah Gede

Saya sempat berfikir, berapa banyak beras dan bahan makanan yang harus di masak untuk menyediakan tamu yang begitu banyak. Belum lagi untuk stay selama 2 hari 1 malam (rata-rata), para tamu bisa makan sekitar 3x atau mungkin lebih. Sedekah yang luar biasa, benar-benar bentuk syukur yang bermanfaat untuk orang banyak. Pantas saja hasil panen yang berlimpah setiap tahun, semata-mata karena ada keberkahan di dalamnya. Sungguh sangat salut dengan apa yang saya saksikan.

Oya, ada syarat khusus juga lho masuk ke imah gede, salah satunya untuk makan. Bukan, bukan uang sebagai bayaran. Syaratnya kita harus menggunakan icon / ciri khas dari masyarakat sana atau masyarakat sunda secara umumnya. Yaitu laki-laki harus menggunakan iket kepala disebut juga iket sunda, sedangkan wanita harus menggunakan sinjang (kain batik yang dipakai seperti rok).

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan Ciptagelar
Iket & Sinjang

Malam itu, sabtu malam minggu 16 September 2017, sudah mulai ada acara-acara adat yang ditampilkan. Hiburan-hiburan kesenian sunda untuk para pengunjung, seperti wayang golek, dll. Meskipun acara puncak upacara adat seren taun baru akan dilaksanakan esok pagi nya, yakin 17 september 2017.

Selesai menyaksikan acara-acara hiburan, kami istirahat (tidur) di homestay tempat kami menginap. Tipe-tipe rumah disana adalah rumah-rumah panggung dari bambu & kayu dengan atap dedaunan kering. Saya tidak tau persisnya apakah itu jerami kering / ilalang kering, yang jelas disana tidak menggunakan genteng / asbes sebagai atap. Tapi ternyata tidak ada bedanya kok, tidak ada angin / hujan yang sembarang masuk dari atap-atap yang sekilas seperti tidak kuat itu. Didalam tetap nyaman & hangat, meskipun suasana disana super dingin karena berada di kaki gunung.

Hari minggu (17 sept) adalah acara puncak upacara adat seren taun Kasepuhan Ciptagelar. Semua tamu sudah berkumpul di alun-alun kasepuhan. Selain tamu-tamu tak diundang seperti kami (duh jaelangkung kaleee), di puncak acara hadir juga tamu-tamu undangan seperti aparat-aparat pemerintah dari Sukabumi, Banten, dll.

Rentetan acara adat mulai di laksanakan sejak pagi, dan ditutup dengan upacara ‘Ngadiukeun’ yang dipimpin langsung oleh kepala adat Kasepuhan Ciptagelar. ‘Upacara Ngadiukeun’ ini yakni menyimpan padi ke lumbung padi yang disana disebut ‘leuit si Jimat’.

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan CiptagelarBerpoto bersama di leuit si Jimat

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan Ciptagelar

Selesai acara, kami bersiap untuk pulang. Sebelum itu kami menunggu jemputan mobil yang sudah kami sewa kemarin. Perjalanan pulang pun di mulai sekitar pukul 11 siang, dan sampai ke tempat finish yaitu kasepuhan Sinarresmi sekitar pukul 12 lebih.

Perjalanan serasa lebih panjang buat saya, entah kenapa untuk perjalanan pulang tidak begitu nyaman (hampir muntah mabuk perjalanan :P ). Mungkin karena tengah hari, cuaca panas, belum bersempit-sempitan dengan teman-teman di box mobil. Tapi overall perjalanan tetap menyenangkan, karena selalu ada guyonan yang bisa mencairkan suasana.

Sesampainya di Kasepuhan Sinarresmi kami beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga, karena masih harus menempuh perjalanan lebih kurang 3 jam mengguanakan sepeda motor.

Napak Tilas Tradisi Sunda Baheula di Kasepuhan Ciptagelar
Berpoto bersama di Imah Gede Kasepuhan Sinarresmi dengan Kepala Adat (Abah Asep)

Kami start pulang sekitar pukul 3 sore, selepas shalat ashar. Berburu sunset sebentar di pantai Palabuhan Ratu, dan melanjutkan ke rumah masing-masing. Selesai 

Sungguh pengalaman yang menyenangkan bisa berkunjung ke kampung-kampung adat di Sukabumi. Yang masih alami dan menjaga dengan baik tradisi-tradisi leluhur. Semoga suatu waktu bisa berkunjung lagi.

Budayakan Comment Setelah Membaca :)

Baca Juga

4 komentar