sqIus80d5VwRjHCsULqdp1Lmmq7jVxCChULbkU68
Nganjang Ka Baduy (Panduan Mengunjungi Baduy Luar dan Dalam)

Iklan Billboard 970x250

Nganjang Ka Baduy (Panduan Mengunjungi Baduy Luar dan Dalam)

Niat yang sudah lama terpendam. Sebenarnya keinginan untuk mengunjungi Baduy sudah ada sejak lama. Ditambah sering melihat unggahan orang atau mendapatkan ajakan dari teman yang sudah lebih dulu datang kesana. Duh makin ngiler jadinya.


Tapi, karena satu dan lain hal, belum bisa diwujudkan saat itu. Akhirnya, karena sudah cukup penasaran, dan kebetulan teman-teman karib saya juga ingin kesana. Direncanakanlah untuk berangkat.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Sekilas Tentang Suku Baduy

Baduy atau Kanekes merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 26.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang mengisolasi diri mereka dari dunia luar.

Bahkan untuk orang Baduy Dalam, mereka sangat tabu dengan teknologi. Seperti memiliki keyakinan untuk tidak mau di dokumentasikan. Berbeda dengan Baduy Luar yang sedikit lebih terbuka dengan kemajuan dunia luar.

Baduy dalam terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik. Sedangkan Kampung Baduy Luar kurang lebih ada 70 kampung, yang mengelilingi kampung-kampung Baduy Dalam.

Karena itu lah Baduy Luar disebut sebagai Pendamping. Kampung-kampung Baduy Luar diantaranya Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya.

Selain soal keyakinan, yang membedakan Baduy Dalam dan Baduy luar adalah dari pakaian yang mereka kenakan. Baduy dalam khas dengan pakaian serba putih sampai kepada iket kepalanya, sedangkan pakaian khas Baduy Luar adalah hitam dengan ikat kepala biru.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Menuju Pedalaman Suku Baduy via Bogor

Seperti biasa saya dibersamai teman-teman lama dan baru, yang di dapat dari forum. Yang saat itu terkumpul 20 orang. Kami berangkat menggunakan 3 armada / mobil.

Hari itu 21 September 2019, meeting point di KFC Taman Topi Bogor. Semua peserta datang ke Bogor, karena rencana kita akan melalui jalur / rute Jasinga.

Ada yang dari Bogor, Jakarta, Depok, Tangerang, Bandung, Bekasi bahkan dari Cirebon. Tidak lupa rombongan saya dari Sukabumi. Semuanya datang ke Bogor untuk berkumpul dahulu.

Kami janjian pukul 8 pagi. Pastinya saya tepat waktu dong, sebelum jam 8 sudah sampai di lokasi. Untungnya hari itu jalanan tidak terlalu macet, sehingga tidak ada kendala.

Sambil menunggu rekan-rekan yang lain, kami santai-santai di KFC Taman Topi sambil sarapan. Satu persatu datang. Dan karena banyak yang belum kenal, dijadikan ajang saling berkenalan dulu deh.

Jam 9 pagi, semua sudah berkumpul. Kami siap untuk berangkat. Setelah mengatur tempat duduk, ready, go...

Perjalanan cukup lancar, rute yang di ambil dari Bogor menuju leuwiliang, lalu ke Cigudeg, Jasinga, Ciboleger lalu terus sampai Cirinten.

Oh ya, sebagai informasi bagi yang belum tau. Jalur yang biasa digunakan oleh wisatawan untuk menuju perkampungan Baduy sebenarnya Jalur Ciboleger. Mengingat untuk ke Ciboleger ada angkutan umum, yaitu Elf yang berangkat dari terminal Rangkas Bitung. Jadi gampang untuk yang tidak bawa kendaraan.

Jalur Ciboleger adalah salah satu jalur yang paling ramai dan sering digunakan. Selain ada 1 lagi yaitu jalur Cijahe. Namun untuk jalur Cijahe tidak ada angkutan umum, sehingga hanya bisa digunakan jika membawa kendaraan pribadi.

Nah, untuk perjalanan kemarin, kami tidak menggunakan kedua jalur wisatawan itu. Karena salah satu teman jalan saya waktu itu ada yang sudah sering datang ke Baduy untuk membeli madu. Jadi beliau tau jalur lain, yang konon lebih dekat dan lebih asri.

Ya, karena jalur Ciboleger paling ramai dilalui, sehingga sudah banyak pembangunan fasilitas. Termasuk fasilitas penunjang selfie. Seperti tugu-tugu, dll. Untuk yang senang berfoto sih mungkin cocoknya pakai jalur itu.

FYI, jika melalui jalur Ciboleger, setelah turun dari elf di terminal Ciboleger, wisatawan harus mulai berjalanan kaki / trekking sekitar 5 jam untuk mencapai perkampungan Baduy. Wow. Sedangkan melalui Jalur yang ditunjukan kawan saya ini, hanya 1 jam sudah sampai di perkampungan Baduy luar.

Gak bisa pakai kendaraan ya?

Ya gak bisa lah, kan memang tidak diperbolehkan. Kendaraan harus di parkir di kampung terakhir yang bukan kampung baduy (perbatasan), yang berbatasan dengan Baduy Luar. Setelah itu trekking / jalan kaki deh.

Kalau yang pakai jalur wisatawan, ya di Ciboleger tadi kampung terakhirnya. Sedangkan kalau jalur yang saya lalui kemarin nama kampung terakhirnya adalah Nangerang.

Kampung Nangerang (kampung non Baduy) ini berbatasan dengan Kampung Baduy Luar (Ciranji). Hanya sekitar 5 menit berjalan kaki sudah masuk Baduy luar.

Sebelumnya, saya mau berbagi cerita dulu nih, bagaimana perjalanan kami untuk sampai ke Kampung Nangerang itu. Kampung non Baduy yang sepertinya paling dekat dengan perbatasan Baduy luar. Kampung yang akan kami gunakan untuk parkir kendaraan. Jaraknya masih 1 jam dari Ciboleger, dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan pribadi.

Untuk menuju kampung Nangerang, kami disuguhkan jalan yang luar biasa jeleknya, berupa batu-batu coral yang belum kena aspal. Licin ditambah medan jalan yang banyak tanjakan.

Cukup memakan waktu di jalan ini, yang padahal tidak begitu jauh. Apalagi salah satu mobil kami sempat tidak kuat menanjak dan mogok.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy
Tipe jalannya, di beberapa bagian batuan-batuan menumpuk di tengah jalan. Sehingga menyebabkan mobil slip, susah menanjak.

Akhirnya, setelah berunding alot, kami memutuskan untuk menitip kendaraan di rumah warga. Sedangkan kami lanjut dengan menyewa elf. Untungnya sang guide banyak kenal dengan orang sana, termasuk dengan supir elf yang kebetulan lewat mengantarkan belanjaan warga yang habis dari pasar.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Karena kendala jalan tadi, prediksi kami sampai prakiran (Kampung Nagerang) jam 4 sore pun meleset ke jam 7 malam. Huhu.

Trekking dan Menginap di Baduy Luar

Sesampainya di Kampung Nagerang kami istirahat, shalat dan siap-siap untuk mulai trekking ke Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Seperti sudah disebut di atas, dari kampung Nagerang ke Baduy Luar (Ciranji) hanya perlu 5 menit. Namun, karena tujuan kami menginap adalah Cikadu (kampung Baduy Luar ke-3 dari perbatasan) yang mana juga berbatasan dengan Baduy Dalam, sehingga harus trekking sekitar 1 jam.

Trekking santai, karena medannya seperti naik gunung. Turun naik menyusuri kebun-kebun / huma. Trekking sekitar 1 jam, mungkin lebih, karena kebetulan banyak mamak-mamak yang ikutan. Jadi super santai.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy
Tipe jalanan yang kita lewati saat trekking menuju baduy luar ataupun baduy dalam

Kami menginap di Baduy Luar tepatnya kampung Cikadu. Di rumah salah satu warga yang kawan kami kenal. Kang Acin namanya.

Esok nya kami akan lanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam. Jadi, sesampainya di rumah kang Acin kami langsung beres-beres dan bersiap istirahat. Tidak lupa makan malam dulu yang sudah dimasakin tuan rumah. Kita cukup bawa mentahan saja ya, seperti lauk pauk, karena disana tidak ada warung.

Menuju Baduy Dalam dari Baduy Luar

Alasan kami memilih menginap di Baduy Luar selain karena kemalaman, juga karena faktor kenyamanan. Bukan soal fasilitas, toh sama saja. Listrik, sinyal tidak ada baik di Baduy Luar maupun baduy dalam. Tetapi karena di Baduy Dalam lebih banyak pantrangannya.

Contohnya tidak boleh menggunakan alat elektronik, tidak boleh pakai pasta gigi, dll. Daripada ada yang tidak sengaja dilanggar kan, kami cari aman aja deh, dan menginap di Baduy Luar.

Sebenarnya ada 1 alasan lagi, yaitu supaya keasrian alam dan keseharian di Baduy Dalam tetap terjaga sebagaimana mestinya. Biarkan mereka tetap dengan keyakinan-keyakinannya, yang kalau terlalu banyak berinteraksi dengan orang luar. Sedikit banyak mungkin akan memberikan pengaruh. Itu sih menurut kami ya. Kembali pada pilihan masing-masing.

Hari minggu, 22 september 2019 pagi-pagi kami sudah bangun dan antri untuk mandi di kali / pancuran. Tidak boleh pakai sabun mandi ya. Salah satu pantrangan di suku Baduy termasuk di Baduy Luar. Tapi katanya kalau pasta gigi boleh.

Selesai sarapan, yang kembali di siapkan oleh ambu yang punya rumah, kami bersiap untuk trekking ke Baduy Dalam.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy
Bersantap dengan menu sederhana, tapi nikmat luar biasa.

Perjalanan kembali sekitar 1 jam, perjalanan santai. Mungkin kalau yang cepet gak sampe sejam deh. Melewati banyak sekali sungai, yang sayangnya sedang kemarau. Jadi airnya surut. Gak bisa nyebur main air deh.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy
Jembatan perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam, dari sini udah gak bisa foto lagi.

Sesampainya di Baduy Dalam kami mampir ke rumah salah seorang warga. Di jamu dengan air putih dan pisang.

Benar, suasana di Baduy Dalam lebih asri dan sunyi. Rumah-rumah mereka tebuat dari kayu, yang hanya diikat. Sayang kami tidak bisa mengabadikannya. Hehe.

Karena alasan keyakinan tadi, jadi di Baduy Dalam tidak menggunakan alat-alat modern termasuk paku. Minum saja dengan gelas bambu lho.

Sedangkan kalau di Baduy Luar sudah menggunakan paku untuk penyangga rumahnya, meskipun tipe-tipe rumahnya hampir sama dari kayu dan bambu. Alat makan pun sudah menggunakan beling, piring dan gelas. Entah untuk menjamu tamu saja atau biasa digunakan sehari-hari. Tapi katanya kalau ada razia akan dihancurkan oleh kepala suku nya. Jadi harus di umpetin.

Warga Baduy itu sangat ramah-ramah, baik di Baduy Luar maupun Baduy Dalam. Senyum selalu merekah di wajah mereka, tak kala bertemu kami yang warga luar. Selain itu mereka juga pemalu, jarang bicara kecuali di tanya.

Ekspektasi orang-orang luar yang sering menganggap orang pedalaman itu serem, beringas, kental dengan ilmu-ilmu kanuragaan. Hehe. Soalnya saya sempet mengira begitu juga. Tapi ternyata salah besar.

Mata pencaharian orang Baduy (baik luar / dalam) adalah bertani dan berkebun. Setiap hari mereka pergi ke ladang, bahkan kadang tidak pulang. Karena ladang yang lumayan jauh dari rumah tempat tinggal mereka.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Yang unik anak-anak disana sudah biasa membantu orang tuanya di ladang. Anak-anak kecil pun, terutama anak laki-laki. Karena memang tidak ada sekolah, jadi keseharian mereka ya itu. Katanya, kalau anak perempuan akan di nikahkan ketika umur 12 tahun. Maka tak heran, banyak wanita-wanita belia yang sudah gendong anak.

Sedangkan untuk perempuan kesehariannya adalah menenun. Membuat kain-kain khas Baduy yang sering dijajakan juga kepada pengunjung. Mereka juga produksi gula merah, asli dari aren.

Info Lengkap Tentang Suku Baduy
Si Ambu yang sedang menenun


Selain hal-hal menarik seperti itu, ada juga yang membuat miris, yang sangat disayangkan. Yaitu adanya pedagang di kawasan Baduy Dalam. Pedagang makanan, minuman yang mana beliau adalah orang luar Baduy. Aji Mumpung berhubung selalu ramai wisatawan yang mengunjungi Baduy. Hmmmm. Padahal tidak boleh loh. Merusak kealamian disana banget kan.

Konon sudah sering di ingatkan, tetapi ngeyel. Mangkanya kemarin kami tidak membeli dagangan mereka. Meskipun sudah ditawarkan terus menerus dengan sedikit maksa. Tuman!

Kurang lebih 2-3 jam kami diam di Baduy Dalam, berinteraksi dengan warga-warga disana. Lihat-lihat dagangan orang Baduy dan belanja untuk cendramata. Dagangannya beraneka ragam ada kain tenun, tas-tas, gelas bambu, gelang-gelang, dll. Yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Rasanya, ketika disana sangat merasakan kedamaian, jauh dari hiruk pikuk, udara bersih, air bersih. Tapi tidak dipungkiri, sesekali mikir juga "mereka gini aja ya tiap hari?" gak ada listrik, makanan terbatas (selain makanan pokok), tanpa teknologi, dll. Agak ngeri kalau berkhayal misalnya diri sendiri yang harus menjalaninya. Karena ya, tidak terfikir aja bagaimana rasanya. Hehe. Salut untuk mereka.

Pengalaman beberapa jam disana sangat memberi banyak pelajaran, khususnya untuk saya pribadi. Bagaimana mereka hidup bahagia dengan keterbatasan yang menurut mereka bukan keterbatasan.

Ingat kata-kata seorang kakek disana yang umurnya sudah 100 taunan katanya. "Di kota dahar, didieu dahar, sarua wae (Di kota makan, disini makan, sama saja)" begitu ucapnya, ketika kami tanya mau gak ke kota. Hehe. Singkat tapi bermakna.

Selanjutnya, pelajaran lain yang bisa kita ambil dari keseharian mereka, adalah bagaimana mereka menjaga alam yang sudah menjaganya. Dalam arti saling bersinergi dan berdampingan.

Konon alasan dilarang menggunakan sabun dan barang-barang kimia disana, juga untuk menjaga agar tanah dan airnya tepat bersih terjaga. Untuk anak cucu mereka. Terbukti udara disana sangat sejuk dan segar, mungkin itu juga salah satu yang membuat mereka disana awet muda. Selain si kakek yang berumur 100 tahun tadi, ada kakak nya lho yang mungkin diatasnya 5 tahunan, ceunah.

Satu lagi yang tentunya membuat salut, mereka terus menjaga aturan adat nenek moyang. Dan diturunkan temurun ke anak cucu nya. Tidak tergoda dengan gemerlap hidup seperti orang-orang pada umumnya.

Itulah sekelumit pengalaman perjalanan saya dan teman-teman menyambangi pedalaman suku Baduy. Semoga ada yang di dapat dari cerita ini. Setidaknya informasi bagi teman-teman yang akan kesana.

Koleksi Foto

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

Info Lengkap Tentang Suku Baduy

*) Semua foto diambil di Baduy Luar. Termasuk foto dengan orang baduy dalam yang memakai kostum serba putih. Itu karena beliau ikut berjalan bersama kami saat pulang dari Baduy Dalam sampai Baduy Luar.

Info Pelengkap:

1. Karena perjalanan saya menggunakan kendaraan pribadi. Berikut saya infokan cara untuk kesana dengan Kendaraan umum. Jika ingin mengunjungi Baduy dengan cara ngeteng, bisa menggunakan kendaraan umum dari terminal Rangkas Bitung menuju Ciboleger.

2. Jika pertama kali datang, dan tidak ada yang bisa menunjukan jalan. Bisa mencari guide (orang baduy asli) yang sering mangkal di terminal Ciboleger.

3. Guide selain akan menujukan jalan, juga bisa dijadikan porter, dan host untuk menampung kita di rumahnya.

4. Guide tidak mematok harga. Terserah kita mau kasih berapa. Tapi yang jelas kita juga harus bisa mengira-ngira dan worth it dengan service yang mereka berikan.

5. Bawa oleh-oleh untuk tuan rumah, mereka senang kalau dibawakan ikan asin dan sayuran. Selain itu bawa perbekalan juga untuk kita makan selama disana. Biasanya tuan rumah / guide kita akan dengan senang hari memasak untuk makan kita, tentunya dengan bahan-bahan yang sudah kita bawa. Jangan bawa bekal pas-pasan ya, biar bisa makan dengan yang punya rumah.

6. Selalu menjaga adab dan prilaku selama berada di Baduy. Hargai adat-istiadat dan patuhi semua larangan. Contoh kecil untuk tidak memotret di Baduy dalam, dan tidak menggunakan pembersih jika ke kali.

Budayakan Komentar Setelah Membaca :)

Kamu Pasti Suka
SHARE
Zoetami
Sharing while doing.

Petualangan Terkait

Subscribe Artikel via Email

Posting Komentar

Iklan Tengah Post