Thursday, January 19, 2017

Gara-gara Cabai Mahal

Tahun 2017 dibuka dengan polemik kenaikan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat. Hal ini sekarang sedang hangat diperbincangkan. Mulai dari kenaikan tarif listrik, STNK motor, BBM non subsidi, sampai yang paling hits kenaikan harga cabai. Saya fokus ke cabai ya, kenapa? Pertama karena belum punya rumah, jadi gak bayar listrik. Terus saya juga gak punya kendaraan pribadi, jadi gak suka beli bensin, apalagi urus STNK *kesian tapi ya belum punya semua ^-^
Maka dari itu hanya gara-gara kenaikan harga cabai lah yang saya rasakan sendiri dampaknya, baru-baru ini.

Jadi beberapa hari lalu, efek hujan melulu dan belum nemu makanan dari pagi tiba-tiba kepikiran buat bikin ‘Jengkol Goreng Pedas Manis’ favorite saya. Tanpa basa-basi berangkat lah saya dengan seorang teman ke pasar gudang. Pasar gudang termasuk pasar terlengkap di Sukabumi, paling lengkap pokoknya. Walaupun letaknya kurang strategis dan terbilang masih kumuh, becek, kotor, dan akses nya juga agak susah tapi pasar gudang selalu rame. Biasanya setiap malam hari dan pagi hari.

Gara-gara Cabai Mahal
sumber: Instagram @dedesolehsaepul

Sesampainya disana saya langsung berburu bahan-bahan yang dibutuhkan. Selesai, tinggal cari bumbunya. Saya langsung menghampiri tukang bumbu terdekat dari tempat saya berdiri. Biasanya untuk membeli bumbu sambal dipasar kita bisa request adukan bahan 'khusus' untuk sambal, kebiasaan disini kita tinggal bilang ke pedagang nya “mang, sambeuleun...” si emangnya udah ngerti dan akan langsung bungkusin gadoan cabe, bawang, sama tomat tanpa takaran pasti. Walaupun semau udel ngambilnya tapi ya lumayan, cukup untuk beberapa kali bikin sambel takaran anak kost mah. Itu biasanyaaa.

Ternyata sekarang tidak, ketika saya pesan si emangnya menolak dan nunjuk pedagang bumbu satunya lagi yang memang tidak terlalu jauh dari tempat dia “gak ada, tuh disana” begitu kira-kira katanya (dengan bahasa sunda dan pasang wajah males). Yasudah saya meninggalkan tempat itu tanpa banyak tanya, dalam hati berpikir mungkin ngga jual, cuma buat borongan, atau siemangnya belagu. Saya pun kemudian menghampiri pedagang bumbu kedua yang ditunjuk pedagang pertama tadi. Hasilnya sama, ditolak  pedagang kedua inipun responnya sama dan nunjuk-nunjuk pedagang berikutnya. Makin aneh, padahal dikedua tempat yang saya datangi tersebut ada tumpukan cabai dkk, banyakkkkk.

Demi menghindari penolakan-penolakan berikutnya saya tidak mendatangi pedagang lain, dan memutuskan untuk pulang. Ya, walaupun agak kecewa karena yang diperlukan tidak lengkap. Padahal untuk pecinta pedas, sambal sudah menjadi bagian dari 4 sehat 6 sempurna (bukan 5 lagi). Sepertinya berlaku untuk sebagian besar orang Indonesia deh, secara lidah orang kita sudah sangat terbiasa dengan makanan-makanan bernuansa pedas.

Diperjalanan pulang, saya temui pedagang bumbu eceran. Disana bumbu-bumbu sudah ditakar dalam kantong dan Alhamdulillahnya ada si cabai juga. Walaupun dalam 1 kantong hanya berisi kurang lebih 10 biji saja, dengan harga 2000 rupiah. Lumayan lah... Sambil melayani pembeli siemang nya bilang kalo di pasar sekarang gak mau jual bumbu eceran apalagi cabai, karena rugi. Dan oh yaaa barulah saya ngeuh kalo katanya harga cabai memang lagi tinggi ya, pantesan saja dipasar jadi aneh. Karena memang tidak terlalu sering ke pasar (kalau lagi pengen aja) jadinya gak terlalu tau infonya. Soal kenaikan harga cabai pun paling dapet selewat-selewat dari berita di televisi atau di media sosial, gak terlalu ngikutin.

Sampai akhirnya saya sengaja baca-baca di internet, dan WOW kabarnya harga cabai sampai naik ke harga 100 - 140 ribu dan merata hampir di seluruh daerah. Ya, termasuk disini. padahal Sukabumi mungkin salah satu penghasil cabai untuk memasok daerahnya sendiri, banyak para petani cabai di Sukabumi selatan. Katanya lagi kenaikan tersebut akibat menurunnya produktivitas petani efek dari cuaca buruk. Memang betul cuaca sekarang bener-bener lagi galau, kadang siang panas banget tapi sorenya hujan deres. Malah sekarang-sekarang hujan terus dari pagi sampai pagi lagi, bikin mager dan laper.
Dan mungkin ini juga alasannya kenapa kalau makan di warteg sambelnya jadi aneh, ternyata gara-gara harga cabai naik. Kayanya bahan untuk bikin sambal dicampur-campur biar banyak dan murah. Kebongkar semua deh sekarang. Sebuah ancaman untuk para pecinta pedas, bisa-bisa yang tadinya di warung makan sambal gratis nanti ditarif. Karena harga cabai lebih mahal dari harga lauknya. Duh...

Akhirnya dengan bahan seadanya, terbentuklah sepiring makanan lezat tak ada duanya ‘Jengkol Goreng Manis Agak Pedas’ (Gara-gara cabai mahal). Tapi biar begitu rasanya gak kalah ndes kok, nih!

Gara-gara Cabai Mahal

Cara bikinnya simple banget, tinggal goreng jengkolnya sampe empuk abis itu cuma di campur ulekan cabai + bawang terus ditambah kecap. Sangat sederhana. Solusi makan enak untuk anak kost yang lagi bosen sama masakan warung tapi gak terlalu pinter masak. Saat menggoreng gunakan api sekecil mungkin, memang akan memakan waktu lebih lama tapi dia akan lebih empuk. Kalau api terlalu besar, dia akan kelihatan mateng padahal masih keras. Gosong namanya.

*loh kok ada bonus resep colongan...*

"back to topic"

Jadi itu tadi sekelumit pengalaman saya merasakan sendiri efek dari kenaikan harga-harga bahan pokok yang sedang terjadi sekarang. Hal itu mungkin dirasakan setiap hari oleh mereka, masyarakat, para orang tua yang berhadapan langsung dengan polemik tersebut, terus menerus. Bukan hanya harga cabai, tapi kenaikan harga lainnya. Pailit memang, tapi melulu menyalahkan pihak tertentu juga tidak baik. Yang penting berapapun harganya, mudah-mudahan selalu diberikan rezeki yang cukup untuk menebusnya. Syukur-syukur semua bisa kembali normal, sesegera mungkin. Semoga.

Baca juga: KESUKABUMIAN - Tahun Baruan Positif, Nyunda di Gunung Sunda

Baca Juga